Medan, (Analisa)Tidak hanya Partai Keadilan Sejahtera (PKS), sebagai negara yang berdemokrasi, seluruh elemen bangsa ini bahkan elemen bangsa lain dunia, akan mengapresiasi perjuangan rakyat mesir dalam menuntut pergantian pemerintahan.
Hal tersebut ditegaskan Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Sumut, H Muhammad Hafez Lc, MA, dalam Live Talk Show Medan Forum Live Trijaya Medan Senin (31/1) di Hotel Tiara Medan. Membahas topik “Reformasi di Jazirah Arab” dengan menghadirkan Narasumber, Ketua DPW PKS Sumut, H. Muhammad Hafez, Pengamat Politik Internasional dari Fisip USU, Rosmery Sabri dan Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Impor Sumatera Utara, Khairul Mahali.
“Saat ini, seluruh komponen bangsa-bangsa di dunia yang memperjuangkan demokrasi, juga ikut memberikan apresiasi terhadap perjuangan rakyat Mesir. Tidak hanya PKS, komponen-komponen bangsa lain, seperti Kanada, Belanda bahkan sebagian masyarakat kita, juga telah memberikan apresiasi,” ujar Hafez menjawab desakan salah seorang penelepon interaktif yang menginginkan agar PKS memberikan ajaran berdemokrasi yang Islami pada Pemerintah Mesir.
Gerakan demonstrasi besar-besaran saat ini di negara-negara Timur Tengah menurut Hafez, disebabkan oleh adanya sumbatan-sumbatan saluran demokrasi yang terlalu lama di negara-negara tersebut. Khusus di Mesir, pemberlakuan Undang-undang darurat selama 11 tahun di negeri itu berefek pada terciptanya rasa takut yang berkepanjangan di hati rakyat. “Tujuan Undang-undang Darurat tersebut adalah mengamankan Negara. Namun tetap saja tidak ada jaminan keamanan bagi masyarakat Mesir. Malah yang muncul adalah kediktatoran pemimpin,” ujar Alumni Universitas Al Azhar Kairo tersebut.
Penuhi Tuntutan
Hafez juga berkeyakinan, Pemerintah Mesir akan segera luluh dan memenuhi tuntutan demonstran. Karena dukungan militer saat ini tidak lagi penuh seperti sebelumnya. Terlebih lagi Presiden Mesir, Hosni Mubarak saat ini sudah dalam keadaan uzur. Bahkan sering pingsan setiap kali tampil berpidato.
“Ini babak baru politik di Timur Tengah. Rezim-rezim yang diceritakan Allah dalam Al Qur’an, persis seperti apa yang terjadi saat ini. Fira’un otoriter, menjadikan kekuatannnya secara otoriter, tidak bisa menyatakan pendapat. Cara-cara yang otoriter selalu dipraktikkan Presiden Mesir. Tunggu saja angin reformasinya kemana,” tutur Hafez.
Sementara Pengamat Politik Luar Negeri USU, Rosmery Sabri mengatakan, gejolak yang terjadi di Tunisia dan Mesir saat ini, turut membuat Negara Arab Saudi menjadi ketar-ketir. Sebagai Negara tetangga, Arab Saudi akan terus memantau perkembangan Mesir. Karena tidak mustahil, apa yang terjadi di Mesir, juga dapat terjadi di Arab Saudi.
Sedangkan Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia, Sumut, Khairul Mahali mengatakan, sejauh ini ekspor komoditi asal Sumatera Utara untuk Mesir, masih belum begitu mengalami gangguan. Karena ekspor-ekspor tersebut tidak dilakukan secara langsung, melainkan dengan menggunakan negara lain sebagai perantara, seperti Singapura dan Malaysia. (sug)
Sumber : Analisa

0 komentar