Anak Kader (Juga Ingin) Bekerja Untuk Indonesia


Islamedia - Melihat konser anak kader ahad (17/4/2011) saat Milad ke-13 di GBK, sungguh membuat hati saya tergetar dan mata berlinang, menitik perlahan. Sambil menyimak dan menghayati konser yang apik tersebut, ingatan melayang ke diri sendiri. Seolah gambaran tentang masa kecil dan remaja diputar ulang. Terbiasa dengan berbagai pentas acara seni panggung, dari qiro’ah Quran, sari tilawah, baca puisi, vocal grup, paduan suara, sendratari, operet, sampai waranggana (vokalis perempuan pada kesenian karawitan, khas jawa). Dari tingkat RT sampai berbagai lomba seni di propinsi.
Kadang bukan hanya lomba, tapi sekedar bersama melukis di pekuburan cina, dibimbing salah seorang pemuda desa yang kini sudah menjadi pelukis terkenal dunia. Atau menari tari klasik jawa bersama di pendopo Kabupaten, setiap Ahad pagi sampai siang.

Rasanya, indah sekali melalui hari-hari yang padat waktu itu, dengan berbagai aktivitas berkesenian. Karena untuk lomba kan tentu butuh banyak waktu latihan. Maka, hampir setiap hari, setelah jadwal sekolah usai, langsung bersambung dengan jadwal ekskul seni ini itu. Melelahkan, tapi sangat menyenangkan…

Lalu, beberapa tahun kemudian, saat memutuskan ‘hijrah’, satu hal yang cukup membuat saya gamang pada waktu itu adalah: Lalu bagaimana dengan kecintaanku pada seni? Cukupkah sampai di sini saja riwayatmu?

Untunglah, ada sedikit celah. Bergabung ke tim nasyid akhwat di kampus, sempat beberapa kali pentas di kampus sendiri atau di berbagai acara keagamaan lain di Jakarta yang khusus akhwat. Tapi, tetap saja saya masih bertanya, “Apa lagi ya?”
Karena, saat mendengar alunan musik sedikit saja, sungguh sulit rasanya untuk tidak ikut bersenandung.

Waktu itu, dalam kegamangan jaman kuliah, tahun 90-an, karena ingin melupakan suka ria bermusik, saya pasang tulisan poster di kamar kos dengan huruf besar, tulisan yang galak: NO MUSIC!
Tulisan yang lalu memancing banyak pertanyaan,”Maksudnya apa nih?”

Saya sering menjawab singkat, “Mau konsentrasi belajar, mau ngapalin Qur’an, bentar lagi ujian di LTQ, kalo ada musik aku gak konsen!”.
Padahal, tulisan itu sebetulnya mewakili kegelisahan saya sendiri. Saya merasa seperti sedang tak menjadi diri sendiri, dengan segala ke-Indonesia-annya. Saya merasa kok jadi seperti tercerabut dari akar budaya.
“Kenapa sejak hijrah, aku merasa dikondisikan untuk menjadi ‘arab banget’ ya?” begitu pikir saya waktu itu.

Ini mungkin senada dengan komentar suami, 5-7 tahun yang lalu, saat kami menghadiri sebuah acara kita yang diawali dengan lagu Indonesia Raya. Sudah bertahun-tahun tak pernah ikut upacara dan menyanyikan lagu ini di awal acara, saat pulang suami berkata, “Tadi rasanya waktu nyanyi Indonesia Raya, kok seperti bertemu kawan lama yaa? Kangen banget! Selama ini suka mikir, rasanya Indonesia di mana, kita di mana..”

Lalu, saat 1-2 tahun yang lalu putri kecil kami memohon, “Bu, aku mau les privat piano dong. Boleh ya?”
Saya terperangah. Waduh, gimana ini? Anak akhwat kok minta lesnya malah piano ya? Garuk garuk kepala deh Bunda jadinya.



Akhirnya, sebagai jalan tengah, kami belikan dia keyboard yang tak terlalu mahal, dan cukup berlatih di rumah saja. Tapi, dasar darah seni mungkin mengalir deras di tubuhnya, hanya dengan mendengarkan nyanyian 2-3 kali dari tivi atau dvd player, sejenak kemudian dia mampu memindahkan notasinya ke dalam bilah-bilah kibor. Hanya dengan coba-coba, mengira-kira, tanpa membaca notasi aslinya. Halah, sense of music-nya sangat tajam ternyata.

Lalu, saat seorang kolegaku di kantor menawarkanku untuk menjadi pengajar di salah satu sekolah musik, khususnya untuk bisa membaca not balok bagi anak usia TK, aku makin terperangah. Halah, ini ummahat je, lha mosok mengajar not balok di sekolah musik? Bukannya mengisi majlis taklim saja bu?
Maka, dengan halus tawaran itu kutolak.

Tapi, sejak melihat konser anak kader Ahad kemarin, mata saya seolah terbuka, mengerjap-kerjap riang. Baru kali ini, seingat saya, ada pentas seni, dengan mengatasnamakan anak kader, bahkan untuk even nasional sebesar ini.

Aha! Mungkin ini salah satu jawabannya. Bukankah selama ini saya sering kesulitan mencari formula yang tepat untuk pembinaan anak-anak sekolah itu? Awal direkrut sih ratusan orang, tapi pertengahan tahun sudah berguguran tinggal puluhan, malah kadang belasan saja. Oh, ada apa dengan anak kader?

Ya, anak kader! Biar bapak ibunya kader, tapi dia tetap anak-anak. Tak bisa dipaksakan jadi emak kecil atau bapak kecil yang mumpuni. Sementara kita, orang tuanya, kadang terlalu bersemangat mencetak dia menjadi ’akhwat/ikhwan sejati’, yang kadang melupakan bahwa mereka juga masih perlu melewati masa anak-anaknya dengan baik. Tentu bukan berarti dibebaskan saja mau jadi anak-anak yang seperti apa.Tapi apakah adil jika mereka seolah dipaksa harus jadi ikhwah betul sejak kecil? Padahal, kita sendiri bisa jadi dahulu tak seperti itu, kita tetap menjadi anak dan remaja biasa. Padahal, mereka masih ingin bermain, bernyanyi, menari, melompat gembira...

Sementara itu, kita bisa melihat, selain olah raga, wadah universal lain yang mampu menjadi magnet bagi anak-anak dan remaja adalah SENI. Ya, seni. Olahraga dan seni adalah bahasa yang sangat universal, bisa diterima oleh semua kalangan, apalagi bagi anak dan remaja yang memang sedang ingin ‘terus bergerak’. Anak-anak saya sendiri, dari sekian banyak kegiatan ektrakurikuler yang ditawarkan oleh sekolahnya, yang mereka anggap favorit adalah kegiatan teater, yang mana akan selalu dipentaskan pada akhir tahun. Ada semacam kebanggaan pada mereka jika terpilih sebagai pemeran tertentu pada pertunjukan teater itu. Mungkin, banyak juga anak yang seperti ini.

Tapi nampaknya, bidang seni ini belum banyak kita garap. Kalau olah raga, lumayanlah sudah ada, di DPC sudah ada fans club bola atau futsal. Juga yang hobby-nya nggowes sepeda, ada wadahnya.

Bagaimana dengan wadah untuk seni? Masih bisa dihitung dengan jari.

Mungkin ini salah satu celah, untuk dapat mengikat hati anak-anak kita yang tercinta itu. Memang ada berbagai wadah lain, seperti karya ilmiah, pramuka, jurnalistik, pecinta alam, ... tetapi tak semua anak tertarik dengan itu. Sedangkan seni, ibarat dua sisi mata uang dengan olah raga, umumnya anak-anak, bahkan yang anak rumahan pun, menyukainya. Minimal, menjadi penikmat seni, suka mendengarkan lagu/nasyid dari MP3, lap top atau HP-nya.


Maka, acara mengumpulkan anak dan remaja itu dapat diformat dalam bentuk berkesenian, yang lalu dipadukan dengan arena curhat, baru diselingi sedikit materi keagamaan.

Kenapa materi keagamaannya justru sedikit?
Lho, dia anak kader kan? Sejak bayi pun dia sebenarnya sudah hafal materi-materi tarbiyah, ikut abbi/umminya kesana kemari mengisi kajian dari liqo ke liqo, dari taklim ke taklim. Bahkan, mungkin seluruh esensi dari berpuluh-puluh buku yang terpajang di rak buku orang tuanya sudah diserap semua melalui lisan orang tuanya, saat mereka memberikan materi. Bagaimana pula anak-anak ini akan diberi banyak materi lagi. Jangan-jangan malah mual nanti dia, terlalu banyak materi :)

Masih lekat dalam ingatan saya, saat jaman sekolah dulu aktif di ormasnya pelajar Muhammadiyah, ada berbagai even tahunan yang menjadi ajang lomba seni antar sekolah Muhammadiyah. Dan itu sangat menarik hampir semua siswa. Kalau yang tak kebagian tampil terpilih sebagai peserta, minimal jadi penonton. Ramai, penuh sesak.
Lalu, kini terpikirkan, apakah even semacam ini bisa kita adopsi di tingkat DPC, DPD, DPW, bahkan DPP? Bukankah menarik melihat berbagai aktivitas anak dalam berkesenian? Bukankah akan banyak manfaatnya kalau mereka banyak berkegiatan, dari pada di rumah saja?

Tentu beberapa pernak pernik harus kita sesuaikan agar tidak menabrak rambu-rambu syari’ah. Kostum yang harus tetap menutup aurat (ya gak mungkin lah ’ikhwit’ kita menari Jawa hanya dengan kemben saja). Juga menjaga tidak terjadi ikhtilat.


Yang jelas, bagi saya sendiri, konser kemarin cukup mewakili kegelisahan saya tentang pembinaan anak kader yang masih belum optimal ini (khususnya di daerah saya sendiri). Seolah kini satu pintu telah terbuka bagi mereka, hal yang mungkin akan banyak menuai kritik jika terjadi pada 5-10 tahun yang lalu.


Ah, butuh waktu 10 tahun lebih ya, untuk sampai tahap ini? Tak apalah. Karena kita semua kan sedang belajar. Belajar untuk menyumbangkan hal yang lebih baik bagi umat, khususnya di negara ini, Indonesia.

Mungkin ada kekhawatiran, bagaimana kalau anak-anak ini jadi kebablasan? Susah diajak mengaji gara-gara sibuk berkesenian? Dalam hal ini, tentu harus ada fungsi pengawasan. Di sinilah peran orang tua, saya rasa. Anak-anak itu harus tetap terjaga fitrahnya.


Dan lihatlah, mereka toh tetap bersemangat diajak demonstrasi. Bagi anak-anak saya sendiri, seruan demo ibarat piknik! Mereka akan sangat antusias untuk ikut serta, kadang menyiapkan sepatu roda kalau disambung dengan long march. Demi demo, kegiatan ekskul favorit mereka (yang kebetulan juga seni, yaitu teater) rela ijin sementara.

Sebenarnya, semakin anak disibukkan dengan berbagai kegiatan, justru semakin positif bagi penyaluran energinya yang yang sedang melimpah ruah itu, dan dia akan tetap mampu berprestasi. Dengan catatan, berbagai kesibukan tersebut adalah memang pilihannya sendiri, bukan paksaan dari orang tua.

Pengalaman empiris saya juga membuktikan hal yang sama. Terbiasa berkegiatan non stop dari Senin sampai Ahad pagi sampai sore sejak SD, memasuki kelas 1 SMA saya merasa mulai harus fokus belajar. Maka, dengan sengaja saya mengurangi kegiatan ekstrakurikuler. Tak sebanyak sebelumnya, masih ada 2 hari tertentu yang asyik santai di rumah saja sepulang sekolah. Tapi, ternyata asyik santainya cenderung membuai. Dan, hasil akhirnya justru ranking di semester 1 kelas 1 SMA itu melorot, hanya nangkring di ranking 3. Sejak itu, saya banting setir lagi, kembali seperti semula.
”Wah gak bisa ini kalau caranya kayak gini. Mendingan sibuk-sibuk saja kayak biasanya, yang penting dijaga kesehatannya. Insya Allah nanti ranking 1 lagi, hihi” kata saya dalam hati. Alhamdulillah, ini terbukti di semester-semester berikutnya.


Hmm, bukankah Hasan Al Banna juga mengatakan,”Berikanlah amanah pada orang-orang yang sibuk...”

Ya, anak-anak kita itu perlu disibukkan dengan berbagai kegiatan, untuk membangun jati dirinya. Karena anak-anak kita juga ingin bekerja untuk Indonesia :)

Mukti Amini
thumbnail
About The Author

Ut dignissim aliquet nibh tristique hendrerit. Donec ullamcorper nulla quis metus vulputate id placerat augue eleifend. Aenean venenatis consectetur orci, sit amet ultricies magna sagittis vel. Nulla non diam nisi, ut ultrices massa. Pellentesque sed nisl metus. Praesent a mi vel ante molestie venenatis.

0 komentar