INILAH.COM, Jakarta - Politisi PKS Agoes Poernomo termasuk politisi muda yang moncer dari PKS. Dia identik dengan Komisi Pemerintahan di DPR. Dia akrab dipanggil Goes Poer. Mengapa dipanggil dengan sebutan itu?
Panggilan ‘Gus’ telah menjadi kosakata akrab di telinga publik. Panggilan tersebut identik dengan penyebutan terhadap putera kyai sebagai bentuk penghormatan. Seperti Gus Dur, yang berasal dari keluarga kyai yang terhormat khususnya di Jawa Timur.
Bagaimana dengan Goes Poer? Apakah dirinya juga berasal dari kalangan keluarga santri? "Kalau saya gus palsu. Tidak punya nomor induk gus," kelakarnya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (18/3/2011).
Dia menuturkan, mulai dipanggil dengan sebutan "Goes Poer" saat masa kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta sekitar 1991-1992. Saat menjadi aktivis Jamaah Salahuddin, tutur Goes Poer, banyak rekannya yang memiliki nama awalan 'Agus'.
" Ada Agus Maudi, Agus Suyino, Agus Priyanto. Kemudian untuk membedakan dengan yang lainnya makanya dipanggil dengan singkatan," katanya. Lama-lama, panggilan 'Goes Poer' ini telah menjadi brand khusus bagi dirinya.
Maka tak heran jika banyak yang menyangka dirinya benar-benar gus. "Saya sering dianggap gus beneran. Apalagi kalau sedang berkunjung ke Jawa Timur," akunya. Meski gus palsu, sejatinya Goes Poer berasal dari kalangan nahdliyin tulen. Kakek dari jalur ibunya merupakan kyai yang berpengaruh di Cilacap, Jawa Tengah.
"Makamnya banyak yang menziarahi," katanya. Karena jalurnya dari jalur ibu, pesantren tersebut tidak diwariskan ke Goes Poer. Namun 'gus palsu' Goes Poer tak kalah dalam soal pemahaman keagamaan dengan 'gus beneran'. [mdr]

0 komentar