PKS Makin Membumi


Tudingan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bukan partai yang bisa menerima segala bentuk kesenian kembali terbantahkan. Pembukaan musyawarah kerja nasional PKS yang digelar di Yogyakarta, Kamis (24/2) malam, dipenuhi nuansa budaya Jawa berikut pergelaran seni.

Sejak dari pintu masuk, para tamu dan peserta pembukaan musyawarah sudah disambut among tamu dari kader PKS yang berpakaian sorjan lengkap dan mengenakan belangkon. Nuansa penuh adat dan budaya semakin kentara saat Kelompok Lima Gunung dari Magelang menampilkan Jazz Gladiator Gunung.

Meski judulnya jazz, ini adalah pertunjukan gerak tari. Gerakan energik ditampilkan 35 penari. Mereka memperagakan aktivitas orangorang yang tinggal di pegunungan, sekaligus menunjukkan semangat kerja. Arena pun riuh dengan gemuruh musik gamelan yang ritmis dimainkan Komunitas Manis Renggo.

Alunan gamelan terus bergema mengiringi tarian cucuk lampah menyambut kehadiran para pejabat teras partai yang hadir bersama Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Ketua panitia pelaksana musyawarah yang juga Ketua DPW DIY PKS, Sukamta, dalam sambutannya tidak menutupi `kesengajaan' mengangkat nuansa dan budaya Jawa. "Keanekaragaman budaya, adat, dan seni yang selama ini hidup di dalam urat nadi Yogyakarta memberikan nuansa kenyamanan dan ngangeni," kata dia yang tampil dengan balutan beskap oranye.

Setelah rombongan tamu utama hadir, ruangan `digoyang' irama rancak dari kelompok Jogja Hip Hop Foundation. Suasana menghangat ketika dua lagu mereka tampilkan, yaitu "Ngelmu Pring" dan "Jogja Istimewa".

Lirik lagu kedua yang disuguhkan kelompok ini seolah mewakili dukungan PKS terhadap keistimewaan daerah ini. "Jogja! Jogja! Tetap istimewa. Jogja istimewa untuk Indonesia." (donlot disini)

Tari Lawung Ageng karya Sri Sultan Hamengku Buwono I tak ketinggalan menjadi suguhan utama. Tarian ini menggambarkan semangat latihan perang bersenjata tombak.
Dalam bahasa Jawa, tombak juga disebut sebagai lawung.

Konon, tari ini terinspirasi latihan perang yang dilakukan oleh Prajurit Nyutro Trunojoyo. Dia adalah salah satu pasukan elite Keraton Mataram. Keunikan tarian ini adalah selipan dialog yang menggunakan bahasa campuran Jawa, Madura, dan Melayu.

Sri Sultan Hamengku Buwono X ketika memberikan sambutan mengatakan, pilihan lokasi musyawarah ini menunjukkan niat PKS untuk berbuat bagi Yogyakarta yang baru saja diterpa letusan Gunung Merapi.

Dengan nada bercanda, Sultan menyebutkan kontribusi PKS langsung terasa antara lain karena para pengurus partai menginap di rumah penduduk atau di hotel Melati.
"Dampaknya dirasakan langsung oleh rakyat yang bergerak di jasa penginapan, kuliner, sampai kaus, pasar tradisional, dan cendera mata khas Yogyakarta," kata dia.

Selain menyinggung Yogyakarta yang ngangeni, Sukamta juga mengatakan musyawarah PKS di Yogyakarta memang punya nilai istimewa. Karena, kata dia, di kota ini tertoreh sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pilihan lokasi ini, tutur Sukamta, juga menjadi momentum memperkokoh relasi PKS dengan Yogyakarta. "(Juga) untuk lebih mengokohkan dukungan PKS kepada para penggawa keistimewaan," kata dia.

Dengan semangat "Makaryo Kanggo Indonesia", lanjut Sukamta, ini merupakan kontribusi langsung dalam proses pemulihan Yogyakarta pascaletusan Merapi, baik fisik maupun tatanan ekonomi.

Fragmen tarian Ramayana Anoman Obong menjadi suguhan penutup dari rangkaian pembukaan musyawarah. Para penari perempuan menggunakan pakaian tertutup. Tanpa kehilangan esensi budaya dan kebijakan lokal, busana bisa disesuaikan.

*sumber: Republika
thumbnail
About The Author

Ut dignissim aliquet nibh tristique hendrerit. Donec ullamcorper nulla quis metus vulputate id placerat augue eleifend. Aenean venenatis consectetur orci, sit amet ultricies magna sagittis vel. Nulla non diam nisi, ut ultrices massa. Pellentesque sed nisl metus. Praesent a mi vel ante molestie venenatis.

0 komentar