Menurutnya, aksi-aksi kekerasan yang melibatkan umat bergama di Indonesia tidak seharusnya terjadi dan memakan korban jiwa seperti yang terjadi kepada penyerangan jamaah Ahmadiyah, di Cekeusik, Pandeglang, Banten jika saja pihak intelijen bersikap cepat.
"Semestinya inteligen kita bisa maksimal untuk kemudian bisa mencegah supaya tidak terjadi hal-hal yang bersifat konflik antar warga. Kita menolak rakyat dijadikan tumbal, karena kelemahan intelegen atas pembiaran terjadinya aksi kekerasan," ujarnya, kepada Okezone, di UIN Syarid Hidayatullah, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Rabu (23/2/2011).
Seharusnya, tambah Hidayat, aparat penegak hukum bisa melakukan antisipasi supaya tidak terjadi kekerasan. Seperti kasus penyarang jamaah Ahmadiah, di Ceukesik misalnya.
"Jelas sekali ada pihak dari Ahmadiyah yang tidak mau diungsikan dan bahkan minta dibiarkan saja biar terjadi bentrokan. Tapi dalam tanda kutip ko dibiarkan terjadi bentrokan itu," jelasnya.
Karena sudah memasuki ranah hukum, Hidayat berharap, petugas dapat menangkap aktor intelektual yang menjadi otak penyerangan agar tidak ada lagi kekerasan lain yang mengatasnamakan agama. Lantaran kelemahan intelijen dalam mangantisipasi aksi kekerasan.
"Yang terjadi adalah sesuatu yang dibiarkan dan kelalaian penegak hukum. Hukum harus ditegakkan dan pemerintah tidak boleh kalah dengan provokasi diluar hukum," tambahnya. (abe)
(hri)
Sumber : Okezone

0 komentar