Menjadi Kader yang Profesional


Dalam fabel, kita membaca kisah lomba lari antara kura-kura dan kelinci. Kura-kura, meski berkaki pendek dan berjalan lambat, mampu memenangkan perlombaan. Itulah hasil sebuah profesionalitas dalam bekerja.

Seorang profesional bekerja dengan serius dan baik (ihsan) betapapun kondisi yang ada. Tidak ada kata “main-main” dalam setiap aktivitasnya. Tanpa profesionalisme, kura-kura sudah menyerah melihat kemampuan lari kelinci dan keahliannya melompat. Namun, profesionalisme memberikan semangat dalam kondisi apapun untuk berkarya terbaik. Seorang profesional juga “sportif”, tidak pernah terlintas dalam hatinya untuk “menjatuhkan” orang lain.

Dalam kamus modern, profesionalitas dikaitkan dengan keahlian dan bayaran. Ini yang membedakannya dengan kemampuan amatiran. Namun di sini, profesional yang penulis maksud adalah karakter ihsan dan berkualitas, seperti dalam sabda Rasulullah,
“Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang di antara kamu yang bekerja
dengan profesional.” (H.R. Baihaqi)
Seorang kader yang profesional, juga mendapatkan “bayaran” langsung dari Allah SWT, karena ia berniaga dengan Allah seperti dalam Q.S. As-Shaff:10: “Wahai orang- orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? “. Profesionalitas yang dimaksud dalam Islam bersifat universal, karena Islam adalah sistem yang komprehensif untuk urusan kecil atau pribadi sampai urusan ummat atau negara bahkan dunia.

1 Keharusan bagi Kader
Bagi setiap kader, bekerja secara profesional adalah keharusan. Jika seorang kader tidak profesional, orang awam tidak akan lebih profesional. Hal itu karena, tugas dan beban sesuai kedudukan, sedangkan tanggung jawab sesuai kemampuan. Oleh karena itu, para kader dituntut untuk memberikan tauladan dalam masalah profesionalisme dan kualitas.

Seorang kader harus bagus dan berkualitas dalam setiap pekerjaan. Mereka harus mengikuti ukuran dan aturan kualitas yang telah ditetapkan (misalnya tilawah setiap hari, qiyamul lail tiap pekan dan sebagainya) serta yang diwajibkan oleh Islam. Namun, tidak dipungkiri bahwa profesionalisme tetap memerlukan latihan, ilmu dan pengalaman.

Untuk mencapai tujuan, diperlukan motivasi, kerja keras dan iman. Seorang yang bermotivasi tinggi akan bekerja serius meski atasannya atau ketua tim tidak melihatnya. Pantaslah seorang penyair yang mengatakan:
“Jika kamu paham akan suatu masalah, orang-orang akan memilihmu menjadi pemimpin. Kuatkanlah dirimu ….”

2 Profesionalitas dalam Dakwah
Pekerjaan sekecil dan sesederhana apapun, tidak mungkin mendapatkan kesuksesan apabila tidak ada sistem. Akibatnya, betapa banyak potensi yang terbuang dan terabaikan. Sedangkan potensi rendah, tapi teratur, akan menghasilkan hal-hal yang menakjubkan.

Sesungguhnya kerja Rasulullah pada semua masa kenabian, di Mekah dan Madinah, pada ruang lingkup tarbiyah, penyebaran dakwah, perang atau lainnya, semuanya berdiri tegak di atas teori yang mengakar pada sistem.
Ketika baiat aqabah pertama, Rasulullah membaiat dua belas orang ahli Madinah di dekat Aqabah. Ibnu Ishaq berkomentar, “Ketika kaum tersebut pergi dari tempat itu, Rasulullah mengutus beserta mereka Mus’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdul Manaf, dan ia memerintahkan mengajarkan Al-Qur’an dan Islam. Ia memahamkan mereka tentang agama, maka ia terkenal dengan sebutan Qarul Madinah.”.

Dalam baiat Aqabah kedua, Rasulullah SAW membaiat ahli Madinah secara sangat rahasia tanpa diketahui oleh kafir Quraisy, berjumlah tujuh puluh tiga laki-laki dan duaorang perempuan. Kemudian Rasulullah berkata, “Pilihlah untukku dari kamu sekalian utusan, sembilan dari Khazraj dan tiga dari Aus.”

Dalam peritiwa hijrah Rasulullah, nampak sangat jelas perencanaan yang sangat rapi dan cerdas. Ali r.a. diminta tidur untuk mengecoh orang-orang musyrik. Gua Tsur yang terletak di arah berlawanan dengan jalan hijrah ke Madinah dipilih untuk tempat singgah sementara, karena pasti orang musyrik mengira Rasul pergi ke arah Madinah. Menugaskan Abdullah bin Abdurrahman sebagai informan tentang Mekkah (dalam bahasa sekarang, koneksi internet), Asma binti abu Bakar sebagai penyuplai makanan. Amir bin Fuhairah diminta menggembalakan kambing di sekitar gua Tsur sehingga susu kambing bisa diberikan ke Rasulullah dan sekalian menghapus jejak.

Demikianlah profesionalitas dalam dakwah yang diajarkan Rasulullah SAW. Betapa sejarah ini dapat mematahkan tuduhan orang-orang yang mengatakan bahwa amal Islami tidak mengenal logika.

3 Profesionalitas dalam Perdagangan
Rasulullah bertemu dengan seorang laki-laki penjual makanan dan bertanya, “Bagaimana kamu berdagang?”. Lalu Allah memerintahkan kepada Rasul agar memasukkan tangannya ke dalam makanan tersebut. Ketika dimasukkan, Rasulullah menemukan makanan itu basah. Beliau bersabda, “Tidak termasuk golonganku orang-orang yang menipu” (H.R. Muslim).

Dalam hadits lain, Rasulullah juga menjelaskan, “Tidak halal bagi seseorang menjual barang yang diketahui ada penyakitnya, kecuali ia menjelaskannya.” (H.R. Muslim). Sebuah kisah dari Umar bin Dinar bahwa seorang laki-laki bernama Nawas memiliki unta sakit. Teman Nawas menjualnya kepada Umar. Nawas kemudian terbur-buru menemui Umar dan berkata, “Teman saya menjual unta sakit kepadamu tanpa mengetahuinya. Kembalikanlah unta itu.”

Demikianlah semangat profesionalisme dalam perdagangan yang diajarkan Rasulullah SAW dan para sahabat, tabi’in dan tabi’t tabi’in. Sesungguhnya sangat disayangkan bahwa kenyataan sekarang ini terbalik, banyak pedagang melakukan penipuan, misaldengan munculnya kasus formalin dalam makanan, suntikan zat pemanis pada buah-buahan, dan kasus penipuan lainnya. Sesungguhnya kualitas dan penipuan tidak akan pernah bersatu. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menipu maka tidak termasuk golonganku.” (H.R. Muslim)

Terkait dengan perdagangan, Islam juga sangat memperhatikan masalah kiloan, timbangan dan ukuran secara mutlak. Allah befirman :
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar” (Q.S. 83: 1-5)

4 Profesional dalam Perusahaan
Islam memberikan gambaran berikut demi keberlangsungan, keselamatan dan perkembangan perusahaan.
“Saya orang yang ketiga dari dua orang yang bekerja sama, selama ia tidak berkhianat kepada temannya. Jika ia mengkhianatinya, aku akan keluar dari keduanya.” (H.R. Abu Daud dalam riwayat yang lain, “syetan akan datang.”)

Perhatian Rasulullah dalam kualitas di perusahaan juga terlihat dalam isyarat-isyarat, misalnya hadits tentang keharusan adanya keseimbangan dua telapak kaki saat berjalan, yang menuntutnya menggunakan agar sandal atau sepatu dengan satu model. “Bila salah seorang dari kamu memakai sandal, mulailah dengan kaki kanan. Bila melepasnya, mulai dengan kaki kiri, dan janganlah kamu memakaisatu sandal, memakai semuanya atau melepasnya.” (Jami’ul Ushul, Ibnu Atsir)

Isyarat di atas karena perusahaan adalah kumpulan orang-orang yang semuanya harus memiliki visi yang sama meskipun bekerja di bagian berbeda.

5 Profesionalitas dalam Hukum
Untuk bidang hukum, profesionalitas sudah sangat jelas tertuang dalam sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya Allah beserta hakim selama ia tidak berbuat zalim dengan sengaja. Bila ia zalim, Allah menyerahkan urusan kepada dirinya.” (H.R. Ibnu Hibban dan Ibnu Majah)

6 Profesionalitas dalam Pendidikan
Seorang guru yang profesional mengajar muridnya dengan iklhas dan sungguh-sungguh karena yakin bahwa ilmu yang diajarkannya akan menjadi amal jariyah. Ketika ia mengajarkannya, ia yakin bahwa justru ilmunya akan bertambah.

Imam syahid Hasan Al-Banna mengibaratkan Al-Qur’an adalah listrik. Jika listrik ini tidak dialirkan, seluruh desa akan gelap. Nah, para insinyur elektro bagi al-Qur’an adalah para guru dan dai. Mereka yakin bahwa salah satu amal jariyah adalah ilmu yang bermanfaat. “Jika seseorang meninggal maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal; shadaqah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya” (HR. Muslim).

Dalam Islam, para murid dan mahasiswa juga belajar dan meneliti dengan serius untuk kemaslahatan umat manusia. Dari Ibnu Abbas RA ia berkata: Rasulullah SAW ditanya: “Siapakah orang terbaik? ” Beliau menjawab : “Yang paling bermanfaat bagi sesama manusia” (Ittihaaf Al-Khairat Al-Mihrah bi Zawaa’id Al-Masaanid Al-’Usyrah juz 5 hlm. 191).

Demikialah, para murid juga akan termotivasi belajar, tidak sekedar ingin lulus sekolah, sarjana, master ataupun doktor, tetapi lebih mulia daripada itu, yaitu menemukan sesuatu (material, teknologi, metode, obat, dll.) yang bermanfaat untuk kemaslahatan hidup umat manusia di seluruh dunia.

7 Profesionalitas dalam Rumah Tangga
Umar bertemu dengan sekelompok manusia yang sedang makan sedangkan pembantunya tidak ikut makan bersama mereka. Maka Umar berkata kepada mereka dengan nada keras dan marah, “Tidaklah suatu kaum mengabaikan pelayan-pelayannya! “, kemudian ia menyuruh pelayan tersebut ikut makan bersama majikannya.

Islam sangat memperhatikan hubungan baik dan profesional antara majikan dan pekerja. Sabda Rasul, “Sudah merupakan dosa bagi seseorang yang melailaikan yang ditanggungannya” (H.R. Muslim dan Abu Daud).

Rasulullah juga sangat memperhatikan hak-hak bertetangga yang tidak mungkin terdapat di dalam syariat ataupun hak kemanusiaan manapun. Imam Juhri meriwayatkan bahwa seseorang laki-laki mengadu tentang tetangganya, maka nabi menyuruhnya untuk mengumumkan di pintu masjid: “Ketahuilah bahwa empat puluh rumah (dari rumahmu) adalah tetanggamu”. Juhri berkata, “Empat puluh rumah, begini dan begitu, dan ia mengisyaratkan pada empat arah.” (H.R. Abu Daud.)

8 Referensi
1. Al-Qur’an dan terjemah.
2. F. Yakan, “Kebangkitan Islam”, Syamil, 2004.

Sumber : http://pks-jepang.org/2012/07/30/menjadi-kader-yang-profesional/
thumbnail
About The Author

Ut dignissim aliquet nibh tristique hendrerit. Donec ullamcorper nulla quis metus vulputate id placerat augue eleifend. Aenean venenatis consectetur orci, sit amet ultricies magna sagittis vel. Nulla non diam nisi, ut ultrices massa. Pellentesque sed nisl metus. Praesent a mi vel ante molestie venenatis.

0 komentar