"Ini sangat merisaukan dan semakin mengkhawatirkan kalau kemudian usia anak-anak juga direkrut kelompok teroris," tandas Nasir kepada INILAH.COM, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (26/1/2011).
Menurut anggota Komisi III DPR ini, rekrutmen terhadap anak-anak lebih rentan, karena mereka masih kosong. "Mereka punya semangat tinggi dan cita-cita, mereka didoktrin dengan doktrin-doktrin sesat. Walaupun bagi mereka itu bukan tindak teroris, mereka anggap itu jihad," katanya.
Nasir menilai fenomena keterlibatan anak ABG merupakan tantangan terberat bagi para ulama, semua ormas Islam dan tokoh masyarakat.
"Ini tantangan bagi ormas Islam. Juga kepada para ulama dan tokoh masyarakat. Saya pikir perlulah ulama peduli terhadap ancaman ini. Di samping mereka mengkritisi pemerintah lewat deklarasi kebohongan pemerintah itu, tapi mereka juga perlu melirik ancaman terorisme ini.
Terlepas ini orang menilai hasil rekayasa atau apa, tapi ulama harus punya perhatian jika sampai ada anak-anak ABG ikut rombongan teroris," tandasnya.
Menurut Nasir, penyadaran terhadap anak-anak perlu dilakukan secara pelan-pelan. "Doktrin itu sulit untuk dihilangkan. Tentu harus dengan pelan-pelan. Ulama harus punya kepekaan untuk menangani masalah ini. Ulama bisa menyadarkan mereka lewat pesantren dan tokoh-tokoh masyarakat," ucapnya.
Nasir mengakui upapaya penyadaran oleh para ulama tentang pentingnya sikap nasionalisme memang masih kurang.
Sebagaimana diberitakan, Densus 88 menangkap tujuh remaja di Sukoharjo dan Klaten, Jawa Tengah, Selasa (25/1/2011). Mereka adalah Agung, Joko Lelono, Nugroho, Argo, Tribudi,Sigit Purnomo, dan Yudo Anggoro.
Ketujuh ABG tersebut diduga pelaku teror di rumah ibadah dan sarana umum lainnya, di wilayah Klaten dan Yogyakarta, pada November-Desember 2010 lalu. [bar]

0 komentar