Panja Inflasi: Inflasi 2011 Perlu Diantisipasi Secara Dini

Jakarta (26/1) Memburuknya angka inflasi Indonesia tahun 2010 sebesar 6,96 persen, lebih tinggi 1,66 persen dari target yang ditetapkan oleh Pemerintah dan DPR, adalah diakibatkan oleh kenaikan volatile food yang tinggi dan juga kontribusi kenaikan harga yang diatur pemerintah (administered prices). Demikian dikatakan Wakil Ketua Panja Inflasi dan Suku Bunga Komisi XI DPR, Kemal Azis Stamboel, Rabu (26/1).

Kemal merujuk data BPS, dimana menurut komponen perubahan harga, laju inflasi tahun 2010 tertinggi adalah komponen bergejolak (volatile food) 17,74 persen dan administered prices 5,4 persen. “Inflasi inti sepanjang tahun lalu relatif terkendali, 4,28 persen. Kedepan, pergerakan harga volatile food terutama beras harus benar-benar diperhatikan” ujar Kemal.

Dalam pandangan Anggota DPR dari Fraksi PKS ini, berdasarkan penyebabnya, laju inflasi 2010 lebih banyak dipengaruhi oleh faktor tekanan biaya (cost push), masalah ketersediaan barang (supply shock) dan ekspektasi inflasi. Cost push disebabkan oleh kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) Juli 2010 dan kenaikan biaya perpanjangan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). “Supply shock juga dominan berpengaruh. Terutama akibat gagalnya manajemen stok beras oleh Bulog, dan gagal panen beberapa komoditas. Ekspektasi inflasi dipengaruhi ekspektasi masyarakat terhadap minimnya barang yang beredar di pasar, padahal pasokan barang tersebut tersedia”, tambahnya.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan data BPS, kenaikan TDL sebesar rata-rata 10 persen mulai Juli 2010 telah menyumbang inflasi sebesar 0,35 persen di bulan Agustus, dan memberikan sumbangan inflasi tahun 2010 sebesar 0,36 persen. Data BPS juga menunjukkan, harga beras tahun 2010 YoY, naik 30,90 persen, dan memberikan sumbangan inflasi tahun 2010 sebesar 1,29 persen.

Anggota DPR dari Dapil Garut dan Tasikmalaya ini memproyeksikan, tekanan inflasi kedepan muncul dari tekanan harga pangan terutama harga beras, harga energi (akibat pengaturan BBM Bersubsidi dan kenaikan harga minyak), risiko bencana, biaya distribusi yang masih tinggi, tekanan untuk menaikkan suku bunga dan ekspektasi publik yang terbiasa menaikkan harga.

Menurut Kemal, agar inflasi volatile food tidak terjadi maka perlu antisipasi dini, diantaranya dengan perbaikan manajemen stok oleh Bulog, terutama untuk beras. “Dalam masa panen raya ini, Bulog perlu dipastikan agar mampu menyerap hasil panen dari petani. Selain itu kepastian kecukupan stok barang harus terinformasikan ke pasar, agar pedagang dan konsumen tidak panik, yang bisa menyebabkan kenaikan harga”, tegasnya.

Rencana pembatasan BBM Bersubsidi pada April 2011 juga perlu direncanakan secara matang agar dampaknya minimal terhadap inflasi. Dalam perkiraan BPS, pembatasan BBM Bersubsidi pada April 2011 diprediksi akan memicu kenaikan inflasi hingga 1,5 persen tahun ini. “Potensi tekanan inflasinya cukup tinggi. Agar rendah, perlu dipastikan untuk kendaraan umum dan angkutan barang agar tidak terkena dampak, sehingga mereka tidak menaikkan biaya transportasi ke konsumen,” ujarnya.

Kebijakan anti-inflasi lainnya yang penting menurut Kemal adalah menjaga suku bunga agar tetap rendah dan nilai tukar yang stabil dan kuat. Selain itu perbaikan sarana dan prasarana distribusi barang antar daerah juga penting agar persediaan barang lebih merata dan tersedia dalam harga yang relatif sama. “Kebijakan bank sentral menahan BI Rate tidak naik, menurut saya tepat dan perlu dipertahankan. Berdasarkan beberapa riset, kenaikan BI Rate akan direspon naiknya laju inflasi sampai jangka waktu sekitar 15 bulan. Maka, menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi dalam keadaan perekonomian yang inflasioner akibat faktor cost push akan mendorong inflasi lebih tinggi lagi”, tandasnya.

Kebijakan lain yang penting menurutnya adalah meningkatkan edukasi publik dan membangun kredibilitas otoritas untuk membentuk ekspektasi publik terkait pentingnya inflasi yang rendah. “Dengan antisipasi dini, ditambah dengan kebijakan yang tepat, inflasi 2011 diharapkan rendah dan daya beli rakyat tetap terjaga”, tutup Kemal.

thumbnail
About The Author

Ut dignissim aliquet nibh tristique hendrerit. Donec ullamcorper nulla quis metus vulputate id placerat augue eleifend. Aenean venenatis consectetur orci, sit amet ultricies magna sagittis vel. Nulla non diam nisi, ut ultrices massa. Pellentesque sed nisl metus. Praesent a mi vel ante molestie venenatis.

0 komentar