Magelang, CyberNews. Menteri Pertanian Suswono mengatakan pihaknya menerjunkan enam peneliti dari Litbang Kementerian Pertanian guna meneliti lahan pertanian yang terdampak erupsi Gunung Merapi.
Penelitian ini diperlukan untuk mengembalikan tanah di sekitar lereng Merapi agar bisa kembali subur. Seperti diketahui erupsi Gunung Merapi telah membuat ribuan hektar sawah petani tertutup debu vulkanik. Debu tersebut bersifat panas sehingga mematikan semua jenis tanaman.
Selain itu, tanah sawah yang tertutup debu vulkanik menjadi keras. Kondisi ini diperparah dengan jebolnya bendungan sehingga petani kesulitan mengairi sawah. Saat ini lahan pertanian menjadi keras sehingga agar tanaman sulit berkembang.
Dikatakan bahwa Dinas Pertanian sudah memetakan lahan pertanian yang rusak dan potensial setelah terkena dampak erupsi. Hal ini dilakukan untuk menyusun rencana strategis rehabilitasi dan reskonstruksi lahan pertanian. "Untuk kerusakan lahan pertanian akibat bencana banjir lahar dingin masih kita inventarisir," jelas dia.
Menurut Suswono pemerintah akan segera menggelar program holtikultura yakni penanaman palawija atau sayuran di tengah tanaman salak. Langkah ini dilakukan agar para petani lekas memiliki pendapatan untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari.
Anggarkan Rp 6,4 M
Suswono mengatakan penyematan lahan dan tanaman salak Pondoh di Kabupaten Magelang telah dianggarkan Rp 6,4 miliar. Dari dana itu yang sudah terealisasi mencapai sekitar Rp 6,3 miliar. Saat ini dana untuk penyelamatan lahan dan tanaman ini masih tersisa Rp120 juta.
“Kami menggelar program padat karya dengan melibatkan 146 ribu orang. Setiap petani salak yang terlibat kami beri upah Rp 30 ribu/orang/hari. Selain untuk penyelamatan salak, program ini juga untuk memberikan pendapatan kepada petani," ujar dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan (Distanbunhut) Kabupaten Magelang Ir Wijayanti mengatakan kerusakan lahan tanaman salak mencapai 1.969 hektare di tiga kecamatan, yaitu Dukun, Srumbung, dan Salam. "Untuk recovery lahan salak yang rusak tersebut membutuhkan dana sekitar Rp 17,5 miliar," kata Wijayanti.
Dikatakan bahwa untuk penyelamatan pohon salak sudah dilakukan dengan pemangkasan batang pohon. Dari luas lahan sebesar 1.969 hektare berhasil dilakukan pemangkasan sekitar 99,5 persen.
( MH Habib Shaleh / CN26 / JBSM )
Sumber : Suara Merdeka

0 komentar