"Pencanangan Kampung Siaga Bencana di Desa Ngadirejo ini menjadi momentum bagi seluruh warga negara Indonesia untuk kembali pada jati diri bangsa," kata Salim saat berkunjung ke Desa Ngadirejo.
Desa Ngadirejo merupakan salah satu perkampungan suku Tengger yang menderita dampak paling parah akibat erupsi Bromo yang hingga saat ini masih terus berlangsung.
Menurut Salim, gotong royong, saling membantu dan tolong menolong serta setia kawan merupakan jati diri asli warga Indonesia. Ketika terjadi bencana alam seperti yang terjadi pada Gunung Bromo saat ini, maka jati diri bangsa ini perlu ditumbuhkan kembali. "Saling membantu antara warga satu dengan yang lain menjadi ciri khas KSB,” kata Salim.
KSB, lanjut Salim, ini merupakan wadah kolaborasi untuk melengkapi satu sama lain. Pemerintah selalu siap untuk membantu warga yang terkena dampak erupsi Bromo.
Ketua KSB Desa Ngadirejo, Atmo Triyono kepada Tempo mengatakan, Desa Ngadirejo merupakan desa yang paling parah terkena dampak erupsi Bromo. Desa itu kini memerlukan sejumlah perlengkapan seperti handy talkie, alat transportasi serta lumbung sosial. “HT diperlukan untuk mengorganisir kesiapsiagaan warga dalam menghadapi bencana,” kata Atmo.
Dalam kesempatan itu, Departemen Sosial memberikan bantuan berupa 751 ton beras senilai Rp 4 miliar untuk 134 ribu warga korban erupsi Bromo. Warga tersebut setiap hari mendapat 0,4 kilogram beras selama sebulan. Juga diberikan jaminan hidup untuk 25 ribu warga dengan nilai total senilai Rp 2,2 miliar. “Dalam waktu dekat ini akan diberikan,” kata Andi Zainal, Direktur Perlindungan Korban Bencana Alam Departemen Sosial.
DAVID PRIYASIDHARTA
SUmber : Tempointeraktif

0 komentar